Peningkatan Literasi Kesehatan Mental Masyarakat melalui Edukasi Pendidikan Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Waringin Kurung
DOI:
https://doi.org/10.56359/kolaborasi.v6i3.784Kata Kunci:
health education, mental health, mental health literacy, community service, primary healthcareAbstrak
Introduction: Kesehatan mental merupakan aspek penting dari kesejahteraan masyarakat yang memengaruhi kemampuan individu dalam menjalankan fungsi sosial, emosional, dan produktif. Rendahnya literasi kesehatan mental di masyarakat sering menyebabkan keterlambatan deteksi dini, kesalahan dalam mengenali gejala, serta meningkatnya stigma terhadap gangguan mental. Kondisi ini berdampak pada tingginya angka gangguan mental emosional di Indonesia dan rendahnya pencarian bantuan profesional. Oleh karena itu, intervensi berbasis edukasi diperlukan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan mental.
Objective: Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan literasi kesehatan mental masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Waringin Kurung melalui edukasi pendidikan kesehatan yang terstruktur dan berbasis komunitas.
Method: Kegiatan ini dilaksanakan pada 18 September 2025 di Pustu Sasahan, Kecamatan Waringin Kurung, Kabupaten Serang, dengan melibatkan 50 partisipan. Pelaksanaan dilakukan atas dasar Surat Rekomendasi Kepala Puskesmas Waringin Kurung Nomor PL.02.03/D/XV.2/3817/2025. Metode kegiatan meliputi koordinasi awal, penyusunan materi berdasarkan pedoman WHO mhGAP, pemberian edukasi melalui ceramah dan diskusi, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Instrumen Self-Reporting Questionnaire (SRQ-20) juga digunakan sebagai alat skrining untuk mendeteksi dini risiko gangguan mental emosional.
Result: Kegiatan berjalan dengan baik, ditandai dengan tingginya antusiasme peserta, partisipasi aktif dalam diskusi, dan peningkatan pengetahuan berdasarkan hasil evaluasi akhir. Sebanyak 92% peserta menyatakan kegiatan sangat bermanfaat dan membantu mereka memahami tanda-tanda awal stres, kecemasan, dan depresi. Kader kesehatan menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengenali gejala serta melakukan pendekatan komunikasi yang lebih tepat kepada warga. Peserta juga memberikan masukan agar kegiatan dilakukan secara rutin untuk menjaga keberlanjutan peningkatan literasi kesehatan mental.
Conclusion: Edukasi kesehatan mental yang dilakukan melalui pendekatan komunitas terbukti efektif meningkatkan literasi kesehatan mental masyarakat. Kegiatan ini memperkuat kapasitas kader serta meningkatkan kesiapan Puskesmas dalam melakukan upaya promotif dan preventif terkait kesehatan mental. Tindak lanjut program meliputi pemanfaatan kader sebagai agen edukasi, integrasi skrining kesehatan mental pada layanan primer, serta rujukan lanjutan bagi peserta yang berisiko berdasarkan hasil SRQ-20.
Keywords: Mental Health, Literasi Kesehatan Mental, Edukasi Kesehatan
Unduhan
Referensi
Adhiningsih, A., & Pertiwi, S. (2024). Literasi kesehatan mental pada masyarakat usia produktif di era pascapandemi. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, 18(1), 45–56
Anggraini, M., & Yusuf, R. (2023). Pengaruh edukasi kesehatan mental terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap pencegahan stres pada ibu rumah tangga. Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia, 11(2), 98–107
Ardiansyah, T., & Syafitri, D. (2022). Faktor risiko gangguan mental emosional pada masyarakat Indonesia selama pandemi COVID-19. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 7(3), 210–222
Azzahra, F., & Wibawa, D. (2023). Penerapan SRQ-20 untuk deteksi dini gangguan mental emosional pada masyarakat pedesaan. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes, 14(1), 23–31.
Choirunisa, N., & Dewi, S. (2024). Edukasi berbasis masyarakat dalam meningkatkan mental health literacy remaja. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 6(2), 112–121.
Fitri, L., & Handayani, N. (2021). Hambatan stigma dalam pencarian bantuan untuk kesehatan mental: Studi pada masyarakat urban. Jurnal Psikologi Sosial Indonesia, 20(4), 301–312.
Hakim, R., & Putri, M. (2023). Efektivitas pendidikan kesehatan mental berbasis digital pada masyarakat pascapandemi. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 8(1), 12–20.
Hidayat, N., & Maulana, A. (2022). Analisis beban kerja dan kompetensi tenaga kesehatan Puskesmas dalam pelayanan kesehatan jiwa. Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia, 10(3), 155–167.
Kurniawan, B., & Wulandari, A. (2024). Intervensi kesehatan mental berbasis komunitas untuk menurunkan gejala kecemasan. Jurnal Pengabdian Kesehatan Prima, 5(1), 1–10.
Putra, E., & Lestari, H. (2022). Penguatan peran kader kesehatan dalam deteksi dini masalah kesehatan jiwa masyarakat. Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat, 3(2), 88–95.
Ramadhani, S., & Oktaviani, P. (2023). Mental health literacy dan perilaku mencari pertolongan pada remaja sekolah menengah. Jurnal Kesehatan Global, 6(1), 67–76.
Siregar, D., & Amelia, F. (2023). Implementasi pedoman WHO mhGAP di pelayanan kesehatan primer: Tantangan dan peluang. Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia, 12(4), 245–256.
Widyastuti, R., & Setiawan, R. (2024). Efektivitas pelatihan kesehatan mental bagi kader dalam meningkatkan kemampuan skrining. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 19(2), 90–99.
Yuniarti, E., & Harahap, A. (2022). Sikap masyarakat terhadap gangguan mental dan keterkaitannya dengan tingkat literasi kesehatan mental. Jurnal Psikologi Udayana, 19(1), 55–68.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Devis Enjelia

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.








